By. Hendi Suhendi

Sebagaimana dikemukakan oleh Kemendikbud, Muh.Nuh , bahwa pada kurikulum 2013 , mata pelajaran budi pekerti akan digabungkan pada mata pelajaran Pendidikan Agama.

“Dalam kurikulum baru nanti mata pelajaran agama tidak berdiri sendiri, tetapi digabung dengan pendidikan budi pekerti, hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil anak didik yang mempunyai wawasan keagamaan baik dan budi pekertinya juga baik,” katanya pada Dies Natalis ke-37 Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo di gedung Auditorum UNS Kentingan Solo, Senin.

Penggabungan ini sesungguhnya , bukanlah barang baru, jauh sebelum rencana adanya mata pelajaran Budi pekerti yang di integrasikan kedalam Pelajaran Agama, pada masa orde lama , pendidikan budi pekerti masuk menjadi salah satu mata pelajaran dalam kurikulum SD tahun 1947, pendidikan budi pekerti lantas digabung  dengan mata pelajaran agama pada kurikulum 1964, dengan nama mata pelajaran agama/ budi pekerti. Juga ada mata pelajaran kewarganegaraan yang disebut Civics.

Pendidikan karakter memang timbul tenggelam dalam kurikulum pendidikan nasional kita. Pendidikan budi pekerti kadang menjadi primadona, menjadi mata pelajaran khusus dan kemudian menjadi demensi yang menjiwai seluruh mata pelajaran lainnya, adakalanya budi pekerti diintegrasikan dengan mata pelajaran agama, pendidikan moral pancasila, dan akhlak mulia,namun terkadang mata pelajaran budi pekerti hilang dalam kurikulum kita.bahkan pendidikan budi pekerti  menjadi sesuatu yang tak penting untuk diajarkan. Hal ini tampak dari tidak pernahnya mata pelajaran budi pekerti masuk kedalam mata pelajaran di SLTA sejak kemerdekaan Indonesia.

Budi Pekerti, dalam pengertian lain bisa disebut pula Akhlak yang baik , atau internalisasi nilai baik budaya maupun agama yang mengandung tatacara hidup baik. ( Baca : Pengertian ,tujuan dan penerapan Budi Pekerti Di Sekolah)

Budi pekerti di kurikulum 2013 muncul karena tuntutan keadaan, dimana, pendidikan tampaknya  hanya mampu menghasilkan manusia manusia pandai dan berwawasan luas, namun prilakunya jauh dari nilai nilai yang diinginkan oleh masyarakat itu sendiri. Pelajaran Agama hanya sampai pada penguasaan wawasan keagamaan , wawasan keilmuan keagamaan.tetapi belum sampai pada substansi hidup beragama…

Padahal jika menilik aspek ruang lingkup yang diajarkan pada  pendidikan agama, ambil semisal , Pendidikan Agama Islam, disana suduh cukup ruang lingkup yang meliputi, keimanan (Tauhid) ,Alquran hadist , Fiqh , Sejarah, dan Akhlak Mulia (Budi pekerti). Bahkan satu sama lain harus memiliki semangat  Akhlak , termasuk  Aspek Sejarah sekalipun, harus bernapaskan muatan Akhlaq Mulia.! ,yang kemudian di aflikasikan dalam bentuk Indikator di RPP.

Pengintegrasian atau penggabungan Budi pekerti kedalam pendidikan Agama, Hanyalah bentuk akomodir Keinginan masyarakat  yang menginginkan Budi Pekerti masuk kedalam kurikulum saja, sekaligus mengakomodir keinginan bertambahnya jumlah jam PAI disekolah.

ketidakpuasan masyarakat terhadap hasil pendidikan Sekolah yang tampaknya tidak berpengaruh terhadap peningkatan moralitas manusia yang semakin baik, memperkuat terintegrasinya materi Budi pekerti kedalam mata pelajaran PAI.

Budi pekerti yang terintegrasi pada  pendidikan agama, seolah menyiratkan pesan, pendidikan Agama tak cukup cakap dalam mengelola jiwa baik, dan harus disempurnakan dengan budi pekerti…..Allahualam Bi Shawab..