By.HENDI SUHENDI

  1. Bagaimana Mengajar Kreatif Di KelaS

Jika diibaratkan makanan, materi pelajaran  sesungguhnya adalah makanan siap saji, yang harus segera dihidangkan, siswa adalah konsumen yang siap menikmati, media dan metoda adalah bumbunya, agar makanan itu enak, dan konsumen selalu merindukannya, tugas guru sebagai juru masak/Koqi adalah meramunya, sehingga ketika di hidangkan konsumen melahapnya dengan mantap.!

Guru yang mampu meramu dengan baik materi pelajaran, sehingga materi apapun terasa memiliki cita rasa yang baru, tidak membosankan, dan selalu rasa itu di rindukan, itulah ciri guru kraetif, senantiasa menampilkan moment berbeda di setiap kesempatan materi di kelas. Dan rasa itu selalu melekat di dalam pikiran dan hati.

Guru kreatif sesungguhnya dimiliki oleh semua guru, bisa di usahakan dan di ajarkan sebagaimana Feist (dalam Sternberg, 1999) menyatakan bahwa keberbakatan (giftedness) yang diukur dengan menggunakan tes IQ ternyata bukanlah prediktor yang valid dari pencapaian kreatifitas seseorang. Berbagai  pendapat ahli yang dirangkum oleh Smith (2006) menemukan bahwa kreatifitas tidak dapat diprediksikan atau ditingkatkan secara tunggal dengan memfokuskan pada proses-proses kognitif dan trait kepribadian yang dimiliki oleh seseorang. Hal ini menyebabkan para peneliti lebih memfokuskan perhatian pada faktor-faktor sosial dan lingkungan yang dapat meningkatkan atau menurunkan aktivitas-aktivitas kreatif.

Penelitian yang dilakukan oleh Horng dkk. (2005) menemukan bahwa faktor-

faktor yang terbukti memprediksi pengajaran kreatif yang berhasil seorang guru adalah trait kepribadian, keluarga, pengalaman belajar dan pendidikan, keyakinan terhadap pendidikan, ketekunan dalam mendidik, motivasi, dan lingkungan organisasi. Keyakinan terhadap pendidikan, ketekunan dalam mendidik, dan motivasi merupakan tiga faktor terpenting bagi keberhasilan pendidikan yang  kreatif dari seorang  guru. Penelitian ini sekaligus juga menunjukkan bahwa kreatifitas merupakan sesuatu yang dapat diajarkan. Ridwan Saptoto, dalam tulisannya yang berjudul.

Strategi Pengajaran Kreatif

Ridwan Saptoto, dalam tulisannya yang berjudul ,” bagaimana cara mengajari siswa agar kreatif,” menjelaskan beberapa Strategi Pengajaran kreatif, antara lain :

Kreatifitas merupakan tuntutan pendidikan dan kehidupan pada saat ini.

Kreatifitas akan menghasilkan berbagai inovasi dan perkembangan baru. Individu dan organisasi  yang kreatif akan selalu  dibutuhkan oleh lingkungannya, karena mereka mampu memenuhi kebutuhan lingkungannya  yang terus berubah. Individu dan organisasi yang kreatif akan mampu bertahan dalam kompetisi global yang dinamis dan ketat.

Horng dkk. (2005) selanjutnya mengemukakan berbagai strategi pengajaran

kreatif yang telah terbukti berhasil meningkatkan kreatifitas para siswa. Strategi-strategi kreatif yang telah terbukti berhasil meningkatkan kreatifitas para siswa. Strategi-strategi tersebut sebaiknya diterapkan sebagai aktivitas yang terintegrasi.

Strategi pertama adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa  (student-

centered learning). Guru menurut strategi ini berperan sebagai fasilitator yang menolong para siswa untuk melakukan refleksi diri, diskusi kelompok, bermain peran, melakukan presentasi secara dramatikal, dan berbagai aktifitas kelompok lainnya. Guru juga berperan sebagai teman belajar, inspirator, navigator, dan orang yang berbagi pengalaman. Para siswa diberi kebebasan untuk memilih perspektif yang akan mereka gunakan untuk mempelajari suatu topik. Berbagai metode tersebut akan membuat para siswa berubah dari pendengar pasif  menjadi observer, mampu menunjukkan kemampuannya, dan co-learner. Guru hendaknya juga memberikan kesempatan kepada para siswa untuk memilih topik dalam berbagai tugas proyek individu atau kelompok.

Melalui metode ini, kreatifitas ditimbulkan untuk mengeksplorasi berbagai ide yang dipandang menarik oleh para siswa. Collins dan Amabile (dalam Horng dkk., 2005) menyatakan bahwa motivasi intrinsik dan kreatifitas seorang siswa dapat ditingkatkan jika guru mampu mendorong para  siswa untuk mendiskusikan proses pembelajaran mereka yang secara intrinsik menyenangkan dan menggairahkan.

Strategi kedua adalah penggunaan berbagai peralatan bantu dalam pengajaran (multi-teaching aids assisstance). Guru-guru yang kreatif dan banyak akal menggunakan berbagai peralatan dalam mengajar, seperti penghancur kertas, kotak mainan, palu, naskah tulisan para siswa,  power-point, komputer, dan peralatan multimedia untuk menggairahkan para siswa dalam berfikir, memperluas sudut pandangnya, dan memicu diskusi yang lebih mendalam. Tan (dalam Horng dkk., 2005) mengemukakan bahwa video terbukti efektif untuk meningkatkan kreatifitas para siswa. Storm dan Storm (dalam Horng dkk., 2005) juga menyatakan bahwa pelajaran yang difasilitasi oleh penggunaan video akan menjadi  lebih atraktif, menarik, dan  lebih mudah diingat oleh para siswa. Mata pelajaran  juga akan lebih atraktif  dan menstimulasi pada saat menggunakan komputer, transparansi,  slide show, dan berbagai peralatan multimedia lainnya. Selain itu, keahlian penggunaan komputer merupakan prasyarat bagi guru yang kreatif dan akses terhadap sumber-sumber pendidikan yang berlimpah di internet.

Strategi ketiga adalah strategi manajemen kelas (class management strategies

Strategi ini mencakup pembuatan iklim interaksi antara guru dan siswa yang bersahabat dan memperlakukan siswa dengan  menghormati berbagai kebutuhan dan individualitasnya. Guru diharapkan mampu berbicara dengan nada dan bahasa tubuh.yang ramah (gentle) kepada para siswanya. Guru diharapkan juga tidak menginterupsi atau menghakimi secara tergesa-gesa pada saat para siswa mengekspresikan ide-idenya. Guru diharapkan mampu memberikan bimbingan, pertanyaan terbuka yang lebar banyak, atau menyampaikan pengalaman pribadinya sebagai referensi. Humor yang digunakan guru di dalam kelas dapat menjadi jembatan penghubung antara guru dan siswa, serta menyediakan lingkungan belajar yang santai.

Pendidikan yang saat ini dilaksanakan di Indonesia cenderung lebih mengutamakan pengembangan kemampuan kognitif. Pendidikan pada tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, maupun pendidikan tinggi masih menunjukkan kecenderungan di atas. Hal ini membuat para siswa seringkali mengalami kegagapan saat harus menyelesaikan masalah nyata, karena tidak semua masalah dapat diselesaikan secara efektif dengan menggunakan kemampuan kognitif saja. Kreatifitas seringkali menjadi syarat untuk menyelesaikan masalah secara efektif.

Csikszentmihalyi (dalam Sternberg, 1999) menyatakan bahwa komunitaslah yang membuat kreatifitas seseorang dapat muncul. Pendapat tersebut seharusnya membuat para guru menjadi lebih optimis dalam menerapkan strategi pengajaran kreatif dan mendesain lingkungan pembelajaran  yang mendukung kreatifitas, sehingga kreatifitas para siswa menjadi meningkat.

  1. ESQ Sebagai Sebuah Metode Pembelajaran

ESQ Model adalah sebuah mekanisme sistematis untuk me”manage” tiga dimensi yang ada pada manusia, yaitu body, mind, and soul, atau dimensi fisik, mental, dan spiritual dalam kesatuan yang terintegrasi. Salah satu bagian dalam ESQ Model tersebut adalah Pembangunan Mental (Mental Building) yang meliputi 6 prinsip, yaitu Prinsip Bintang, Prinsip Malaikat, Prinsip Masa Depan, dan Prinsip Keteraturan. Di dalam prinsip-prinsip tersebut terkandung banyak variabel yang menggambarkan makna prinsip tersebut yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW.

Implementasi di tingkat kepemimpinan ,Sang penemu Model ESQ, Model Ary Ginanjar Agustian sesungguhnya berusaha menjawab persoalan: Bagaimana proses pengimplementasian Emotional Spiritual Quotient (ESQ) Model dalam fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan fungsi pengawasan (controlling) .

IKRAR THE ESQ WAY 165

Satu Hati, Enam Prinsip, Lima Langkah

(Satu) Hati :

Ihsan Perbuatanku

(Enam) Prinsip :

1. Allah Tujuanku

2. Malaikat mencatat perbuatanku

3. Nabi dan Rasul teladanku

4. Kitab Suci Pedomanku

5. Hari Kemudian cita-citaku

6. Ikhlas dan Tawakal Sikapku

(Lima) Langkah :

1. Pengabdian kepada Allah syahadatku

2. Shalat karakterku

3. Puasa bentengku

4. Zakat keluarkan potensiku

5. Haji derap langkahku

7 NILAI DASAR ESQ

JUJUR
TANGGUNGJAWAB
VISIONER
DISIPLIN
KERJASAMA
ADIL
PEDULI

4 FUNGSI 7 NILAI DASAR

7 Nilai pegang teguh

7 Nilai jangan dilanggar

7 Nilai keluarkan

7 Nilai satukan

Dari prinsip prinsip dasar penyelenggaraan ESQ, sesungguhnya memilki tujuan untuk mengimplementasikan  Nilai-nilai Islam dalam kehidupn sehari-hari.  Dengan tekhnik memadukan seluruh daya cipta dan rasa manusia dalam satu penyelenggaraan pelatihan ( Pembelajaran)  yang mengoptimalkan penggunaan, strategi mengajar, Media Pembelajaran (Audio visual ), pendekatan Verbal, Kemampuan personal, Psikologi Perkembangan dan Optimalisasi interaksi Audien dan pengajar.

c.  Menghadirkan “ ESQ Di Kelas sebuah Terobosan Kreatifitas

Dari pelatihan ESQ yang penulis ikuti dan saksikan, ada tampak kesamaan Visi dan substansi dari tujuan Kegiatan ESQ dan pembelajaran PAI, yaitu Implementasi ajaran agama dalam berbagai kehidupan. Sesuai dengan penjelasan Ary Ginajar, dalam sebuah wawancara,pada saat  ESQ  dituduh sebagai ajaran Sesat, Beliau menyatakan :

“Metode ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) yang ia ajarkan merupakan salah satu metode pendidikan karakter, dan bukan lembaga agama ataupun bukan lembaga dakwah.

“Kalau ESQ memang ada masalah, seharusnya dari dulu sudah ada masalah. Ini menjadi masalah karena mufti di wilayah persekutuan malaysia ini belum tahu metode ESQ. Mereka juga tidak pernah ikut training dan bertanya langsung ke kami,” kata Ary Ginanjar saat menggelar jumpa pers di Gedung Menara 165, Pondok Pinang, Jakarta, Sabtu (17/07) malam.

Ary juga menyangkal jika ESQ yang dipimpinnya menekankan konsep “suara hati” atau “conscience” sebagai sumber rujukan utama dalam menentukan baik dan buruk suatu perbuatan.

Menurut dia, dalam buku dan pelaksaan pelatihan ESQ, suara hati yang disebut itu adalah suara hati nurani yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits. Sembari mengutip firman Allah SWT Surah Al A’raf ayat 172 dan hadits Nabi SAW tentang segumpal darah dalam diri manusia, Ary menjelaskan.

Apa yang dilakukan ESQ selama ini, terang Ary, hanyalah sebagai upaya mendobrak kevakuman penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam setiap aspek kehidupan masyarakat modern.

“Saya dengan ESQ mencoba mendobrak. Saya mau Al-Qur’an masuk ke semua sektor kehidupan. Menerapkan bisnis, ada nilai Qur’an. Di Politik ada nilai Qur’an. Di bidang hukum, ekonomi, kita ingin semua dengan nilai Qur’an,” kata Ary menandaskan.

Ary menjelaskan, ESQ miliknya merupakan salah satu metode training SDM (sumber daya manusia) serta mananajemen yang juga menambahkan unsur spiritualitas. Unsur spiritualitas tersebut yang membuat ESQ berbeda. Akan tetapi, ia meyakinkan bahwa metode spiritualitas yang mereka lakukan tidaklah sesat.

“Tudingan bahwa ESQ liberal dan pluralis, ini tidak benar. Saya tidak pernah menyatakan dan menyetujui bahwa semua agama sama. Agama saya Islam dan hanya Islam yang benar. Ini keyakinan saya sejak kecil dan tidak akan pernah berubah,” papar dia.

Ari Ginajar dan pihak ESQ juga menyatakan siap menerima masukan dari mana saja. Termasuk juga kesediaannya untuk menemui tokoh tokoh Islam Indonesia yang selama ini concern mengawasi pergerakan aliran sesat, seperti Ustadz Hartono A. Jaiz dan Ustadz Faridh Ahmad Okbah.”

Justru yang menarik dari kegiatan ESQ adalah, kegiatan “pembelajaran Agama” yang disampaikan dikemas secara menarik, actual, pemanfaatn media Audio-visual yang terencana, disampaikan dengan “suara hati, dan penggabungan banyak tekhnik mengajar, pemodelan, sampai Interaksi, permainan yang menyenangkan ( Pakem ).

Dengan Diagnosa yang Penulis lakukan terhadap ESQ, maka penulis coba adaftasikan  , kegiatan ESQ di kelas, meski tidak sepenuhnya tahapan tahapan ESQ ala Ginanjar dilaksanakan, mengingat waktu dan materi pembelajaran hanyalah 2 jam pelajaran. Pola pola penekanan , intonasi bahasa, persiapan media, dan persiapan mengajar dan pengelolan Kelas telah dipersiapkan, sebelumnya.

Adapun beberapa persiapan kegiatan pembelajaran yang menggunakan metoda ESQ diantaranya sebagai berikut  :

  1. Persiapan Perangkat pembelajaran, RPP, dan sekenario pembelajaran
  2. Tentukan tujuan karakter yang ingin dicapai siswa
  3. Mempersiapkan Media Audio ( Suara audio, sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran)
  4. Visual, pilih suntingan Film atau Potongan drama yang mendukung materi yang akan kita sampaikan. (inilah ciri khas ESQ, karena indra penglihatan akan mempercepat conectifitas materi dan mudah diingat anak.
  5. Perhatikan alur, tentukan tahapan berbicara ( kalau perlu susun kata kata yang menarik dari sejak awal, runutkan antara kata-kata dan film, libatkan emosional anak, dengan cara mengoptimalkan suara audio pada saat semangat( Heroik ), sedih, gembira dan harapan.
  6. Pilih jenis music yang sesuai dan mendukung materi yang ingin kita sampaikan.
  7. Libatkan anak pada permainan sebagai jeda, humor, atau gerak badan.
  8. Akhiri dengan Refleksi dan Muhasabah ( Kalau perlu doa disusun sebelumnya, yang mampu mengoyak emosi terdalam anak, kalau perlu sampai mereka menangis.
  9. Adakan evaluasi dan penilaian diri.
  10. Penugasan

Adapun contoh materi yang penulis sampaikan tentang materi Qonaah, atau surat al insyirah. Materi ini sepintas memang sangat sederhana dan gampang di hapal. Jika kita masih menggunakan pola lama, biasanya anak sudah mampu menebak arah ceramah atau isi materi, hal ini menyebabkan anak cepat bosan, dan output dari materi ini tak tersampaikan.

Sedangkan melalui materi Qonaah dan Surat Al Insyirah , kita ingin membagun karakter, sabar, bersyukur, berusaha keras, rajin, tidak  cepat putus asa, dan Optimis. Membangun kesadaran seperti Ini tidaklah mudah hanya dengan menyampaikan materi dua jam pelajaran. Maka kita sebagai Koqi (chief ) perlu kreatif meramu materi yang dua jam tersebut, melekat sampai mereka keluar kelas.Oleh karena itu, ESQ dibutuhkan, untuk membangun kesadaran alam bawah sadar anak, sehingga muncul keinginan untuk senantiasa kuat dan tahan uji.

Penulis coba sebelum pembelajaran selama beberapa menit, (10 menit ) melakukan gerakan gerakan lucu yang diikuti oleh seluruh siswa, hal ini di maksudkan , agar anak/siswa berkonsntrasi, atau menghilngakan kepenatan , karena pelajaran sebelumnya.

Selanjutnya tanpa harus menjelaskan judul materi, kita langsung memutar potongan film, tentang kelaparan di afrika, pemungut sampah, orang orang cacat yang bekerja dan tetap bahagia. Atau cuplikan film tentang anak sederhana namun mampu melakuan apapun tanpa mengeluh. Ditengah film kita bisa memasukan penjelasan, nasihat, kisah para nabi dan penekanan penekanan lain.

Hindari humor ketika mereka sudah terarah, namun sampaikan cuplikan bacaan al quran melalui MP 3 secara samar, buat perbandingan dengan kehidupan anak, yang berlawanan dengan cuplikan film tadi, Jangan lupa persiapkan music yang melankolis atau lagu Nasid (istighfar Opick ), dengan terus memainkan  volume dikomputer.

Biasanya mereka terhanyut ( Kemampuan Improvisasi Guru, sangat dibutuhkan, terutama dalam penyusunan penekanan penekanan bahasa pesan yang ingin disampaikan.).

Bahasa tubuh kita sebagai guru harus menunjukan dan menggambarkan sedih , emosi, semangat, dan kepasrahan.Jangan sis-siakan kesempatan untuk memanfatkan suasana  yang sudah terbentuk dengan melakukan kegiatan kegiatan yang tidak perlu. Kemampuan penguasaan ICT dan In Fokus sangat dibutuhkan, jika tidak mampu dan menggangu, biasanya Penulis meminta guru lain untuk membantu, jika kebetulan jam kosong.

Akhiri kegiatan pembelajaran dengan muhasabah dan Doa, meminta ampun atas kesalahan, memintakan ampun untuk orangtua, (termasuk yang sudah meninggal ) biasanya, anak akan cepat terenyuh dan menangis,( Kecuali laki-laki, karena biasanya mereka malu), dan tentu saja doa yang ada hubungannya dengan materi, seperti diberikan kesabaran, dijauhkan dari kesulitan, dan syukur atas limpahan nikmat.

Dari pengalaman yang sudah dilaksanakan, tanpa menyebutkan standar kompetensi pelajaranpun mereka akan tahu dan secara tidak sadar ,mereka telah belajar materi Qonaah dan Surat Al Insyirah.

Materi materi yang lain pada prinsipnya bisa menggunakan dan menghadirkan suasana ESQ di dalam kelas. Mereka tidak hanya mendapatkan materi pelajaran secara kognitif, metoda ini memungkinkan jiwa mereka ikut dalam proses menemukan (Inquiri) semangat dan motivasi. Audio visual, baik cuplikan film, Maupin music akan sangat mempengaruhi jiwa mereka secara tidak sadar. Apalagi usia mereka, berada pada masa  menggandrungi sesuatu yang berbau tekhnologi, hiburan dan tentu saja music. ESQ  adalah sebuah mekanisme sistematis untuk me”manage” tiga dimensi yang ada pada manusia, yaitu body, mind, and soul, atau dimensi fisik, mental, dan spiritual dalam kesatuan yang terintegrasi. Di kelas biasanya kita para guru hanya  membangun satu dimensi pada diri anak, menggunakan metoda ESQ ini, insya Allah , 3 dimensi pada diri anak akan hadir , yaitu body, mind and soul..

Oleh karena itu Penulis mencoba mengevaluasi semua kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metoda ESQ di kelas, sehingga materi pelajaran mana saja, yang memungkinkan ,cocok untuk digunakan metoda ini.

Dari sisi proses pembelajaran, anak terlihat begitu menikmati hiburan di kelas, bagi mereka menonton dan mendengarkan music  adalah hiburan, apalagi di sela sela pembelajaran kadang mereka menyaksika hal hal lucu, bagi mereka belajar seperti ini tidak membosankan. Namun demikan , Semua metoda selalu saja memilki kelemahan, beberapa kelemahan metoda ESQ dikelas adalah :

  • Alat Audio visual harus dipersiapkan sejak semalam , ( terutama untuk sekenario pembelajaran, ) mati listrik ,kemacetan video atau film ditengah pembelajaran akan merusak tahapan tahapan pembelajaran ESQ.
  • Penugasan cenderung terabaikan
  • Pengelolan kelas yang ekstra detil
  • Sebagian Siswa gengsi untuk terhanyut, terkadang mengganggu temannya yang terhanyut oleh suasana ESQ.
  • Guru Harus menguasi ICT

Namun demikian penulis yakin, dibanding dengan metoda pengajaran lain, menghadirkan   metode ESQ lebih menarik dan terarah. Silahkan anda boleh coba, dan selamat menjadi guru kraetif. !

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bagaimana Cara Mengajari Siswa agar Kreatif ?, Ridwan Saptoto ridwan_psychology@ugm.ac.id
  2. Voice Of Islam, Hidayatullah.com, ahad, 18 juli 2011
  3. Creatif Teacher, Steps job, 2011
  4. WWW.ESQCIREBONINFO.COM