by. hendi suhendi 2012

“Mahasiswa Jepang menghabiskan 240 hari setahun di sekolah, 60 hari lebih dari rekan-rekan mereka di Amerika” (Johnson & Johnson 1996)

Struktur sekolah di Amerika dan Jepang berbeda dalam berbagai segi . hal pertama, dan yang paling penting, adalah bahwa sekolah-sekolah  di Jepang menggabungkan kurikulum nasional yang dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional Jepang. tidak seperti sistem pendidikan di Amerika Serikat, di mana masing-masing negara bagian  menentukan kurikulum sendiri, pemerintah federal memutuskan  masing-masing sekolah apa yang harus diajarkan, bagaimana mengajarkannya, dan bahkan sampai buku sumber yang di pakai.

Ada banyak implikasi dari perbedaan  struktur pendidikan yang di anut oleh kedua negara tersebut. Di sekolah-sekolah Amerika,  setiap negara bagian  memilki  kurikulum sendiri-sendiri, yang berarti bahwa negara memiliki otonomi serta bertanggung jawab atas pembelajaran siswa.  setiap negara kemudian menerapkan kurikulum di sekolah-sekolah ,berdasarkan pada sumber daya yang tersedia untuk negara masing-masing dan apa yang terbaik bagi proses pendidikan di negara bagiannya.

Namun, masalah utama yang muncul dalam sistem di AS adalah proses pendidikan menjadi  tidak merata , dan kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kondisi keuangan di negara bagian masing masing.

Sementara itu di Sekolah jepang,  dilakukan nasionalisasi pendidikan, yaitu memastikan bahwa setiap siswa menerima pendidikan yang sama,yang bertujuan untuk mengurangi kesenjangan berdasarkan kurikulum diferensial.

Di AS, meskipun pengujian standar seperti ACT dan SAT yang dinasionalisasi, kenyatan di lapangan ternyata tidak demikian.   Di Perguruan tinggi ,siswa dari sekolah dengan sumber daya yang berbeda, dan kurikulum yang berbeda pula, harus bersaing secara nasional saat melamar , akibatnya siswa dari latar belakang yang kurang beruntung (sosio-ekonomi dan pendidikan) menjadi korban dari inkonsistensi.

Sementara di sekolah-sekolah Jepang mendidik siswa menjadi Pribadi/Siswa yang unggul, di AS  mereka harus menemukan cara mengatasi rintangan dari desentralisasi kurikulum, yang ditentukan negara. Padahal menurut salahsatu penelitian menunjukan , “ketika  guru AS menggunakan kurikulum yang paralel seperti Jepang, prestasi AS mirip dengan Jepang” (Westbury 24).

Perbedaan struktur kedua,  antara sekolah  di Jepang dan AS bisa dilihat dari pemanfaatan jumlah hari belajar.di Jepang menghabiskan, “240 hari setahun di sekolah, 60 hari lebih dari rekan-rekan mereka di Amerika” (Johnson 1996). Meskipun di sekolah sekolah jepang , kegiatan yang diarahkan pada kajian budaya dan kunjungan lapangan, siswa di Jepang masih menghabiskan jauh lebih banyak waktu di sekolah dibanding pelajar di AS.di tambah, beberapa sekolah tradisional Jepang  memiliki setengah hari   instruksi pada hari Sabtu.

Menurut beberapa perkiraan, dalam 13 tahun sekolah, siswa AS dalam menerima pembelajaran , tetap hampir kurang setahun  dari siswa di Jepang.

Mahasiswa Jepang menerima waktu lebih aktual per hari dan lebih fokus, tidak hanya pada studi akademis, tetapi mereka juga  memiliki waktu yang jelas dalam hal praktik, pengulangan, dan luasnya pengetahuan.

Akhirnya, meskipun AS menghabiskan sejumlah uang  relatif lebih besar daripada pendidikan di Jepang, banyak dana yang dialokasikan digunakan untuk hal-hal lain selain akademisi. Ini termasuk dana untuk transportasi, makanan, atletik dan kustodian serta uang untuk program-program. Bahkan, sebanyak 40% dari US kurikulum dikhususkan untuk mata pelajaran non akademis (Abbeduto 380).

Sebaliknya, sebagian besar siswa di Jepang berjalan atau naik sepeda motor pada saat ke sekolah ,dan hampir di semua sekolah tradisional Jepang ,membiasakan siswanya  membersihkan sekolah  di setiap akhir pembelajaran.

Kegiatan ekstra kurikuler seperti olahraga di lakukan sepulang sekolah, dan hanya diperbolehkan untuk memilih satu klub saja, bahkan sebagian siswa menganggap kegiatan seperti ini menjadi  penghalang bagi peluang mereka melewati ujian masuk dan mungkin akan menghalang keberhasilan mereka (Johnson 1996).

Sumber : Michigan University