wartawanBY. Hendi Suhendi

Ada pemandangan yang menarik dihampir semua sekolah, yang kita tidak temukan sebelum hadirnya bantuan Oprasional Sekolah.yaitu, membanjirnya silaturahmi “Wartawan ” dan “LSM” pada waktu waktu tertentu. Terutama pada saat hadir nya “Si BOS” atau proyek Bantuan Sekolah.

Hal ini mungkin terkait dengan tugas mereka yang memilki fungsi kontrol terhadap lembaga pemerintah atau program kegiatan yang didanai oleh pemerintah.

Dalam buku Blur: How to Know What’s True in the Age of Information Overload karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, tugas wartawan yang pertama yakni, authenticator, yakni konsumen memerlukan wartawan yang bisa memeriksa keabsahan suatu informasi.

Kedua adalah sense maker yakni menerangkan apakah informasi itu masuk akal atau tidak. Tugas ketiga adalah investigator, yakni wartawan harus terus mengawasi kekuasaan dan membongkar kejahatan.

Keempat adalah witness bearer, yakni kejadian-kejadian tertentu harus diteliti dan dipantau kembali dan dapat bekerja sama dengan reporter warga. Adapun tugas kelima adalah empowerer yakni saling melakukan pemberdayaan antara wartawan dan warga untuk menghasilkan dialog yang terus-menerus pada keduanya.

Keenam adalah smart aggregator, yakni wartawan cerdas harus berbagi sumber berita yang bisa diandalkan, laporan-laporan yang mencerahkan, bukan hanya karya wartawan itu sendiri. Ketujuh adalah forum organizer, yakni organisasi berita, baik lama dan baru, dapat berfungsi sebagai alun-alun di mana warga bisa memantau suara dari semua pihak, tak hanya kelompok mereka sendiri.

Adapun tugas kedelapan, role model, yakni tak hanya bagaimana karya dan bagaimana cara wartawan menghasilkan karya tersebut, namun juga tingkah laku wartawan masuk dalam ranah publik untuk dijadikan contoh.

Wartawan Sebagai Mitra Sekolah ?

Selain Wartawan memliki fungsi kontrol dan menjadi kepanjangan informasi yang akan disampaikan kepada masyarakat. Bagi sekolah ,Wartawan merupakan “mitra” yang saling bersinergi untuk membangun pendidikan dan keterlajutan generasi cerdas bangsa.

Meski demikian, Sekolah sering merasa, ” Mereka ” hadir bukan sebagai mitra, melainkan Orang asing dengan kewenangan investigator, Penekan ( Presser), bahkan Intimidator. Tidak jarang kewenangan mereka melebihi BPK bahkan KPK sekalipun.

“wartawan ” Jenis ini sering sekali membawa Koran dengan “Oplah” dibawah standar, mungkin korannya hanya cocok jadi bungkus. Sekolah juga jarang sekali melihat tulisan tulisan mereka yang Berbobot ,atau tulisan kearah membangun  pendidikan,  memberikan solusi solusi yang mencerahkan.( Jangan jangan mereka Tidak bisa menulis?)

Tanpa ” Menjudge” profesi beberapa Oknum Wartawan yang suka menJudge pihak sekolah, keberadaan mereka terkadang cukup menggangu proses KBM, tidak jarang mereka meminta konfirmasi pada saat Guru mengajar , dan seringkali mereka membesar besarkan masalah, yang sesungguhnya masyarakat dan pihak sekolah sudah sampai pada tingkat pemahaman tertinggi.

Dan Anda tahu ujung silaturahmi mereka..???