Perubahan Kriteria Kelulusan UN di 2014

GambarUjian Nasional tampaknya masih dilaksanakan tahun 2014 mendatang, untuk semua jenjang kecuali SD.Namun ada yang menarik untuk kriteria kelulusannya, yaitu dominannya nilai Raport mempengaruhi kelulusan Siswa.

Adapun mengenai kriteria kelulusan untuk Ujian Nasional tahun ajaran 2013/2014 ada beberapa perubahan, yaitu pada Rumus Penentuan Nilai Sekolah (NS) yaitu Nilai Sekolah (NS) diperoleh dari 70 % rata-rata nilai raport semester 3, 4, dan 5 untuk tingkat SMA dan semester 1, 2, 3, 4, dan 5 untuk tingkat SMP serta 30 % Nilai Ujian Sekolah.

Sedangkan untuk Rumus Penentuan Nilai Akhir (NA) tidak mengalami perubahan uaitu Nilai Akhir (NA) diperoleh dari 40 % Nilai Sekolah (NS) dan  60 % Nilai Ujian Nasional (UN). Kemudian untuk nilai terendah setiap mata pelajaran yang di UN kan masih tetap 4,0 dan rata-rata semua mata pelajaran yang di UN kan juga masih sama yaitu 5,5.

Sedangkan ketentuan lebih lanjut berkenaan dengan pelaksanaan Ujian Nasional ini akan di tuangkan pada Prosedur Operasional Standar UN tahun pelajaran 2013/2014 yang akan ditetapkan oleh BSNP. Download lengkap Permendikbud Nomor 97 Tahun 2013 tentang Kriteria Kelulusan Ujian Nasional 2013/2014 dapat anda Sedot disini..

EMIS PAIS 2013 ( Data Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yang lengkap )

Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam Pendataan Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) khususnya Guru PAI, di bawah ini ada 2 (dua) tabel Data Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yaitu :
  1. Data Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yang lengkap
  2. Data Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yang belum lengkapGambar

Al Quran dan Ilmu pengetahuan

Belajar Ilmu pengetahuan dari pendekatan Agama..

Menginstall Akhlaq Anak Di Otak

By.IR Bekti Hermawan Handojo *)

 

Ibarat komputer, otak anak kita jika dihitung berdasarkan “kemampuan membuat pola” atau “tingkat kebebasan berpikir”, serta ditulis dalam bahasa matematika, kemampuan itu sungguh sangat besar. Gambaran kemampuan otak itu adalah ibarat bilangan 105.040.000.000.000 (10 pangkat 5.040 milyar) Kemampuan ini seolah tak terbatas!

Sebagai bukti awal kemampuan otak anak kita, cobalah ajak anak kita untuk membaca kalimat berikut dengan baik dan benar sehingga setiap orang yang mendengarnya bisa memahami maksudnya:

“Jiak kait mempelarija saut lah bura seatip hira, maak ditubuhkan watku sekatir tagi puhlu jatu tahnu untku mengiis peunh merimo atok masianu!”

Saya yakin anak kita bisa membaca kalimat di atas dengan benar tanpa harus diberi tahu bahwa “Jiak” itu adalah “Jika” dan “Kait” itu adalah “Kita”. Canggih bukan otak anak kita? Sayangnya, kemampuan otak sebesar itu setiap hari di sekolah hanya digunakan untuk menghafal, bukan untuk berpikir. Padahal menghafal adalah tingkatan belajar paling rendah dari seorang manusia! Parahnya lagi, pendidikan akhlaq (melalui mapel PAI dan PKN)  yang seharusnya penuh makna dan dinamika harus pula dihafal!

Kemampuan otak yang dahsyat itu seharusnya bisa digunakan untuk memahami pendidikan akhlaq tanpa menghafal pelajaran akhlaq itu sendiri. Inilah yang saya sebut sebagai “meng-install” akhlaq pada otak anak kita, melalui program pendidikan yang saya sebut Matematika Qurani. Jadi, jika otak anak kita identik dengan hardware komputer, maka Al Quran adalah operating system-nya (OS) dan Matematika Qurani identik dengan anti virus-nya (OS) sehingga komputer dapat bekerja dengan baik. Tanpa OS yang terproteksi anti virus, komputer secanggih apapun takkan bisa bermanfaat optimal selain hanya untuk mengetik bahasa mesin yang aneh!

Matematika Qurani adalah pendidikan akhlaq keluarga Muslim melalui pendekatan matematika. Program pendidikan ini bertujuan ganda, yaitu selain agar prestasi matematika anak di sekolah meningkat, lambat laun diharapkan pula anak semakin cinta pada Al-Quran. Kami menyebutnya: “CINTA QURAN TANPA NYANTRI”

Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah supaya mereka berpikir [QS Al A’raaf:176]

Ceritakan kisah “selembar kertas” berikut. Ambillah 1 lembar kertas HVS A4 70 gram atau kertas buram. Robeklah selembar kertas itu dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. 1 lembar kertas dirobek jadi 2 è 2 lembar, 21
  2. Tumpuk robekan 2 lembar kertas tersebut, dirobek lagi maka jadi 4 è 4 lembar, 22
  3. Tumpuk robekan 4 lembar kertas tersebut, dirobek lagi maka jadi 8 è 8 lembar, 23
  4. Tumpuk robekan 8 lembar kertas tersebut, dirobek lagi maka jadi 16 è 16 lembar, 24
  5. Tumpuk robekan 16 lembar kertas tersebut, dirobek lagi maka jadi 32 è 32 lembar, 25

 

Terus robek hingga robekan yang ke 50 [50x], maka jumlah lembar robekan kertas yang kita peroleh adalah: 250 =  1.125.899.906.842.624 lembar. Jika tebal selembar kertas HVS adalah 1/1000 mm, berapa meter-kah jika 1.125.899.906.842.624 lembar robekan kertas itu ditumpuk?

Akhlaq apa yang kita install ke otak anak kita pada kisah “selembar kertas” itu? Apakah anak kita sadar bahwa tumpukan robekan kertas itu lebih tinggi dari gunung Himalaya? Tahukah anak kita bahwa dia bisa menggapai bulan (the moon) jika dia memanjat tumpukan robekan kertas itu? Maha Suci Allah yang telah memberikan akal pada manusia sehingga kita menjadi mahluk yang paling mulia.

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” Ar Ra’d/31:3

Sumber: ISLAMIC SCIENCE MATHEMATICS INSTITUTE [ISMI]

*) Penulis adalah:

  • Direktur Islamic Science & Mathematics Institute (ISMI), Malang.
  • Rekoris MURI Kategori Penemu “Metode Pendidikan Matematika Qurani” tahun 2008
  • Pengarang buku “MATEMATIKA AKHLAQ, Keajaiban Bahasa Bilangan untuk Mendidik Akhlaq Mulia” Penerbit: Kawan Pustaka, Jakarta 2007
  • Pendiri Rumah Akal Foundation, Bogor (RumahAkal.com)

Bacaan kalimat di atas adalah: “Jika kita mempelajari satu hal baru setiap hari, maka dibutuhkan waktu sekitar tiga puluh juta tahun untuk mengisi penuh memori otak manusia”

DAFTAR PESERTA PLPG KUOTA 2013 TAHAP I RAYON 109 LPTK UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA TANGGAL : 23 s/d 31 AGUSTUS 2013 DAN LOKASI

Gambar

Bagi Rekan Rekan yang ingin mengetahui lokasi dimana PLPG dilaksanakan, bisa di KLIK alamat dibawah ini :

 

  1. Daftar Peserta tahap 1 (lokasi : LPMP BANTEN) ; klik di SINI
  2. Daftar Peserta tahap 1 (lokasi : P4TK PENJASKES DAN BK) ; klik di SINI
  3. Daftar Peserta tahap 1 (lokasi : WISMA KINASIH) ; klik di SINI
  4. Daftar Peserta tahap 1 (lokasi : GRAHA INSAN CITA) ; klik di SINI
 
Ketentuan bagi peserta PLPG:
1. Check in peserta hari JUMAT  tanggal 23-08-2013, di lokasi PLPG. 
2. Pembukaan di hari pertama PLPG tanggal 23-08-2013
3. Peserta wajib membawa BERKAS ASLI & FOTOCOPI ijazah terakhir yg dilegalisir dan SK PNS/CPNS, SK mengajar dari tahun pertama s.d terakhir (khusus guru swasta harap membawa fotocopy SK GTY/Guru Tetap Yayasan), pas foto ukuran 3×4 warna=3 lembar (background merah) 
4. Peserta diharapkan membawa kelengkapan menginap selama 9 hari, alat tulis (ballpoint, pensil 2B, Alas/Papan Ujian Tulis, penghapus, penggaris) RPP, Bahan Ajar, media pembelajaran, LKS dan referensi yang relevan dengan kurikulum 2013
5. Peserta membawa surat keterangan berbadan sehat dari dokter (klinik/puskesmas/RS)
6. Panitia menyediakan penginapan dan konsumsi
7. Selama pelaksanaan PLPG peserta tidak diperkenankan meninggalkan tempat diklat
8. Peserta hadir pada setiap sesi materi sesuai jadwal 
9. Peserta diharapkan membawa laptop dan flashdisk untuk keperluan workshop dan praktik mengajar
10.Hal-hal yg belum tercantum dalam ketentuan ini akan diinformasikan pada saat pelaksanaan PLPG
 
informasi: telp (021) 2926 6200 atau sms ke 0852-1019-6123

Pendekatan Pembelajaran Scientific Di Kurikulum 2013

Mendalami Penerapan Pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran

Sejalan dengan rencana pergantian kurikulum 2013, istilah pendekatan ilmiah atau scientific aproach pada pelaksanaan pembelajaran menjadi bahan pembahasan yang menarik perhatian para pendidik akhir-akhir ini. Yang menjadi latar belakang pentingnya materi ini karena produk pendidikan dasar dan menengah belum menghasilkan lulusan yang mampu berpikir kritis setara dengan kemampuan anak-anak bangsa lain.

Disadari bahwa guru-guru perlu memperkuat kemampuannya dalam memfasilitasi siswa agar terlatih berpikir logis, sistematis, dan ilmiah. Tantangan ini memerlukan peningkatan keterampilan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Skenario untuk memacu keterampilan guru menerapkan strategi ini di Indonesia telah melalui sejarah yang panjang, namun hingga saat ini harapan baik ini belum terwujudkan juga. 

Balitbang Depdiknas sejak tahun 1979 telah merintis pengembangan program prestisius ini dalam  Proyek Supervisi dan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) di Cianjur, Jawa Barat. Hasil-hasil proyek ini kemudian direplikasi di sejumlah daerah dan dikembangkan melalui penataran guru ke seluruh Indonesia. Upaya yang dimulai pada tingkat sekolah dasar ini kemudian mendorong penerapan pendekatan belajar aktif di tingkat sekolah menengah. Hasil-hasil upaya ini secara bertahap kemudian diintegrasikan ke dalam Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004, yang dilanjutkan dengan Standar Isi yang lebih dikenal dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006.

Dalam perancangan kurikulum baru, Kemendikbud masih menggunakan latar belakang pemikiran yang menyatakan bahwa secara faktual guru-guru belum melaksanakan cara belajar siswa aktif. Kondisi ideal yang diharapkan masih lebih sering menjadi slogan daripada  fakta dalam kelas. Produktivitas pembelalaran untuk menghasilkan siswa yang terampil berpikir pada level tinggi dalam kondisi madek alias kolep. Deskripsi ini merujuk pada hasil tes anak bangsa kita  yang dikompetisikan pada tingkat internasional dinyatakan tidak berkembang sejak tujuh tahun lalu. Memang, ini kondisi yang sangat memprihatinkan.

Apakah Pendekatan Ilmiah?

Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari pemikiran tentang bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu. Oleh karena itu banyak pandangan yang menyatakan bahwa pendekatan sama artinya dengan metode.

Pendekatan ilmiah berarti konep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific teaching) merupakan bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang  melandasi penerapan metode ilmiah.

 

Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya.

Menurut  majalah Forum Kebijakan Ilmiah yang terbit di Amerika pada tahun 2004 sebagaimana dikutip Wikipedia menyatakan  bahwa pembelajaran ilmiah mencakup strategi pembelajaran siswa aktif yang mengintegrasikan siswa dalam proses berpikir dan penggunaan metode yang teruji secara ilmiah sehingga dapat membedakan kemampuan siswa yang bervariasi. Penerapan metode ilmiah membantu guru mengindentifikasi perbedaan kemampuan siswa.

Pada penerbitan majalah selanjutnya pada tahun 2007 tentang Scientific Teaching dinyatakan terdapat tiga prinsip utama dalam menggunakan pendekatan ilmiah; yaitu:

Belajar siswa aktif, dalam hal ini  termasuk inquiry-based learning atau belajar berbasis penelitian, cooperative learning atau belajar berkelompok, dan belajar berpusat pada siswa. Assessment berarti  pengukuran kemajuan belajar siswa yang dibandingkan dengan target pencapaian tujuan belajar.

Keberagaman mengandung makna bahwa dalam pendekatan ilmiah mengembangkan pendekatan keragaman.  Pendekatan ini membawa konsekuensi siswa unik, kelompok siswa unik, termasuk keunikan dari kompetensi, materi, instruktur, pendekatan dan metode mengajar, serta konteks.

Metode Ilmiah merupakan teknik merumuskan pertanyaan dan menjawabnya melalui kegiatan observasi dan melaksanakan percobaan. Dalam penerapan metode ilmiah terdapat aktivitas yang dapat diobservasi seperti mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Pelaksanaan metode ilmiah tersusun dalam tujuh langkah berikut:

·         Merumuskan pertanyaan.

·         Merumuskan latar belakang penelitian.

·         Merumuskan hipotesis.

·         Menguji hipotesis melalui percobaan.

·         Menganalisis hasil penelitian dan merumuskan kesimpulan.

·         Jika hipotesis terbukti benar maka daapt dilanjutkan dengan laporan.

·         Jika Hipotesis terbukti tidak benar atau benar sebagian maka lakukan pengujian kembali.

Penerapan metode ilmiah merupakan proses berpikir logis berdasarkan fakta dan teori. Pertanyaan muncul dari pengetahuan yang telah dikuasai. Karena itu kemampuan bertanya merupakan kemampuan dasar dalam mengembangkan berpikir ilmiah. Informasi baru digali untuk menjawab pertanyaan.

Oleh karena itu, penguasaan teori dalam sebagai dasar untuk menerapkan metode ilmiah. Dengan menguasi teori maka siswa dapat menyederhanakan penjelasan tentang suatu gejala, memprediksi, memandu perumusan kerangka pemikiran untuk memahami masalah. Bersamaan dengan itu, teori menyediakan konsep yang relevan sehingga teori menjadi dasar dan mengarahkan perumusan pertanyaan penelitian.

 

Uraian singkat buah pemikiran Rawcett J and Downs F. 1986. http://www.indiana.edu/ ~educy520/ readings/fawcett86.pdf menyatakan bahwa teori dengan penelitian memiliki hubungan yang sangat erat. Pola hubungannya dialektik sehingga teori ditentukan oleh data yang dikoleksi sebagai perolehan penelitian. Pada tahap selanjutnya pengolahan data menentukan peluang diterimanya suatu teori.

Disain penelitian dapat menghasilkan tiga ragam teori  yaitu deskriptif, korelasi, dan eksperimen. Penelitian deskriptif menghasilkan teori deskriptif yang menggambarkan atau mengklasifikasi karakteristik individu, kelompok, situasi, atau peristiwa yang disusun secara ringkas dari hasil  atau  temuan obeservasi. Yang termasuk pada tipe ini adalah studi kasus, survey, studi etnografi, dan studi gejala. Jadi, teori deskriptif diperoleh dari penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif menjawab pertanyaan;

    Apakah ini?

Penelitian dan teori relasional yang mempelejari hubungan antara berbagai dimensi atau karakteristik individu, kelompok, situasi, atau peristiwa. Pada tipe ini dijelaskan  bagaimana hubungan bagian dari suatu gejala dengan yang lainnya. Teori dapat dibangun setelah karakteristik atau gejala benar-benar diketahui. Pada riset tipe ini  digunakan  pertanyaan:

·         Apa yang terjadi di sini?

·         Apa yang terjadi jika beberapa karakteristik muncul bersamaan?

Penelitian dan Teori eksperimental bergerak pada prediksi hubungan sebab-akibat antara dimensi atau karakteristik  suatu gejala atau perbedaan antar kelompok. Tipe ini berkaitan dengan penyebab dan pengaruh yang mengeksplorasi persoalan mengapa  ada perubahan gejala atau suatu keadaan. Teori eksplanatori menguji kebenaran dengan riset eksperimen dengan  menggunakan pertanyaan:

·         Apa yang akan terjadi jika…?

·         Apakah perlakuan A berbeda dengan perlakuan B?

Kemampuan menguasai teori menurut Krathwohl dapat dipetakan dalam tabel Taksonomi seperti di bawah ini.

Dimensi proses kognitif menggambarkan tingkat kecakapan berpikir dari mulai mengingat, mengerti atau memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi.  Istilah berkreasi sama dengan mencipta. Pada dimensi penguasaan ilmu pengetahuan atau teori meliputi  penguasaan ilmu pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognif.

Kita mengetahui bahwa dalam rancangan kurikulum 2013 membedakan siswa sekolah dasar yang diberi target untuk mengembangkan kompetensi faktual dan konseptual, dan sekolah menengah mendapat target untuk mengembangkan kemampuannya sampai prosedural dengan puncak kompetensi  pada mencipta.

Bagaimana penerapan metode ilmiah?

Yang paling penting dalam penerapan metode ilmiah adalah menentukan kompetensi siswa yang hendak siswa kuasai. Sebagaiamana diuraikan sebelumnya bahwa guru dapat memfasilitasi siswa pada tiga tipe pilihan yaitu model deskriptif, relasional, atau eksperimen. Ketiga tipe tersebut memerlukan teknik eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi yang berbeda sehingga menghasilkan tipe teori yang berbeda yaitu teori deskriptif, relasional, dan hasil eksperimen.

Secara umum urutan penerapan metode ilmiah meliputi enam langkah utama berikut:

Rumuskan masalah; pada langkah ini mengungkap apa yang sesungguhnya ingin anda ketahui. Himpun informasi; untuk menjawab sejumlah pertanyaan masalah anda perlu mengimpun informasi, data, atau fakta yang menjadi latar belakang pemikiran. Karena itu  pertanyaan masalah sesungguhnya muncul dari proses perluasan atau pendalaman pengetahuan yang telah anda miliki sebelumnya. Tanpa memiliki pengetahuan tentang sesuatu anda tidak dapat bertanya tentang sesuatu.

Rumuskan hipotesis; apa yang sesungguh Anda pikirkan sehingga ingin mengetahuinya dan apa yang ingin anda amati. Berdasarkan teori yang telah diketahui sebelumnya anda dapat menyusun kesimpulan sementara atau hipotesis. Selanjutnya hipotesis dapat diuji, dengan melakukan pengamatan, membangun sebuah model hubungan dan membuktikan melalui kegiatan percobaan atau observasi.

Dalam pelaksanaan pekerjaan hipotesis kerja dapat anda tetapkan dalam masalah seperti dengan menggunakan pertanyaan: Bagaimana penggunaan metode ilmiah dapat meningkatkan hasil belajar siswa?

Materi; tentukan materi yang akan siswa eksplorasi dalam kegiatan belajar dengan memilih satau satu dari tipe deskriptif, relasional, atau eksperimen. Prosedur; susunlah langkah rinci yang akan siswa lakukan dalam melaksanakan penelitian. Hasil; tentukan apa yang akan siswa pelajari pada pelaksanaan observasi. Data apa yang akan siswa himpun, diolahnya dan yang siswa tafsirkan.Simpulkan hasilnya,  informasi yang anda peroleh dari hasil observasi gunakan untuk menjawab pertanyaan yang menjadi masalah sebelum anda melakukan percobaan atau penelitian. Apakah hasilnya sesuai dengan hipotesis atau menjawab pertanyaan?

Penilaian hasil belajar dapat dilihat dalam tiga dimensi. Keterampilan berpikir terepleksi pada aktivitas ; Mengamati,  Menanya, Mencoba, Mengolah, Menyaji , Menalar dan Mencipta. Level kecakapan berpikir terpetakan dalam model Taksonomi : mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi. Sedangkan dalam penguasaan teori meliputi faktual, konseptual, dan proseduran.  Pada pelakanaannya tidak semua aktivitas dinilai pada tiap pelaksanaan pembelajaran. Guru dapat memilih prioritas yang  berdasarkan peta Krathwohl seperti di bawah ini.

Pelaksanaan kegiatan belajar, misalnya, dalam dua jam pelajaran dibatasi pada kegiatan kelompok dalam penguasaan fakta, konsep, dan mencipta pada ranah kognitif level tinggi yaitu analisis, evaluasi, dan berkreasi pada materi pelajaran yang telah guru tentukan.

 

Model Penerapan Pendekatan Kuntitatif dan Kualitatif

Penerapan metode ilmiah dalam pembelajaran dapat memilih menggunakan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Pendekatan adalah  pendekatan yang ilmiah dan sistematis mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran menjadi ciri khas pada penelitian kuantitatif menggambarkan  hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis pada hubungan-hubungan yang dinyatakan dalam bentuk angka (Wikipedia)

Contoh: 240 orang, 79% dari populasi sampel mengatakan bahwa mereka lebih percaya pada diri mereka dalam menghadapi masa depan  sejak  setahun yang lalu hingga hari ini.

Pendekatan  kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan demikian penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono, 2005).

Model penerapan metode dapat dilihat dalam gambar berikut:

Kegiatan bersiklus yang bermula dari indentifikasi masalah, membatasi masalah, menetapkan fokus kajian, menghimpun data, mengolah dan membahas data, mencocokkan dengan teori atau hipotesis, dan menyusun serta menyajikan laporan. Pada model ini dapat mengelola data tidak dengan menggunakan angka-angka.

 

Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data.  Peneliti pergi ke lokasi, memahami dan mempelajari situasi. Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat kejadian. Peneliti meng­amati, mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat hubung­annya dengan peristiwa yang terjadi saat itu.  Peneliti mendatangi suatu lingkungan kemudian menggali informasi yang menjadi fokus yang telah ditentukan.

Data yang diperoleh seperti hasil peng­amatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya. Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai gejala yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif.

Hakikat pema­paran data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan me­ngapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Untuk itu peneliti dituntut memahami dan me­nguasai bidang ilmu yang ditelitinya sehingga dapat memberikan penjelasan  mengenai konsep dan makna yang terkandung dalam data. Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan pada hasil.

 

Prinsip-prinsip itulah yang seharusnya guru terapkan dalam proses pembelajaran sehingga dipastikan siswa tidak hanya aktif dalam kelas, namun mereka dapat mendatangi alam sekitar untuk melakukan kegiatan belajar di luas kelas.

Referensi:

 

·         Kemendiknas  208.  Pendekatan, Jenis, dan Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta

·         Rawcett J and Downs F. 1986. http://www.indiana.edu/ ~educy520/ readings/fawcett86.pdf

·         Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

·         http://gurupembaharu.com/home/mendalami-penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran

Daftar Calon Peserta Sertifikasi Guru Kemenag 2013

Daftar Calon Peserta Sertifikasi Guru Kemenag 2013

NGOPI dari BlogNYA

 
Daftar Calon Peserta Sertifikasi Guru Kemenag 2013

 

Daftar Calon Peserta Sertifikasi Kemenag 2013

 

Kementerian Agama (Kemenag) melalui Dirjen Pendidikan Islam telah merilis long list atau daftar urut prioritas calon peserta sertifikasi guru (sergur) madrasah 2013. Daftar urut prioritas calon peserta sertifikasi ini menjadi database calon peserta sertifikasi guru di lingkungan Kemenag mulai tahun 2013, 2014, dan seterusnya yang akan ditetapkan sesuai kuota.

 

Peserta sertifikasi guru Kemenag 2013 akan ditetapkan dari long list dimulai dari nomor urut teratas ke nomor urut berikutnya untuk setiap kategori, sesuai dengan kuota untuk tiap-tiap lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK).  Peserta sertifikasi guru kemudian didistribusikan kepada tiap-tiap kabupaten/kota secara proporsional.

 

Untuk calon peserta sertifkasi guru Kemenag tahun 2012 yang tidak mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) karena berhalangan yang dibenarkan oleh peraturan, maka yang bersangkutan menjadi peserta luncuran (carry out) tahun 2013, setelah datanya diterima oleh Direktorat Pendidikan Madrasah dari LPTK.

 

Sehubungan dengan penayangan long list ini disampaikan beberapa hal sebagai berikut:

 

1.     Long list ini masih bersifat sementara. Long list terbaru ini sudah menggabungkan hasil pendataan terbaru dan sisa long list yang pernah di-up load\

 

2.     Long list hanya memuat calon yang lolos verifikasi dan sisa long list tahun 2012;

 

3.     Long list disusun berdasarkan usia kemudian masa kerja;

 

4.     Penyusunan dilakukan berdasarkan data soft copy yang diterima oleh Direktorat Pendidikan Madrasah dari Kanwil Kemenag Provinsi;

 

5.    Jika terbukti (baik melalui telaah atau laporan yang dapat dipertanggunjawabkan) ada calon yang melakukan pemalsuan data yang berakibat merugikan calon lain dan menguntungkan dirinya sendiri,

 

calon akan dikeluarkan dari long list dan tidak diikutkan sebagai peserta;

 

6.     Jika terjadi kesalahan dalam penayangan data calon, maka yang bersangkutan dapat mengajukan keberatan/koreksian;

 

7.           Keberatan/koreksian ditujukan kepada Direktur Pendidikan Madrasah,

 

u.p. Kasubdit Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) melalui Kasi Pendidikan Madrasah Kab/Kota yang diketahui oleh Kepala RA/madrasah dan /atau Pengawas. Tembusan ditujukan kepada Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Provinsi;

 

8.     Keberatan/koreksian telah diterima oleh Direktorat Pendidikan Madrasah paling lambat tanggal 28 Februari 2013;

 

9.     Masa keberatan/koreksian hanya diberikan kepada calon peserta yang datanya sudah diterima oleh Direktorat Pendidikan Madrasah pada masa pendataan, bukan untuk calon peserta yang baru mau mendaftarkan diri;

 

10.       Calon yang mendaftar sebagai peserta sertifikasi tidak sesuai dengan bidang keahliannya (contoh: sarjana PAI mendaftar sebagai peserta sertifikasi mata pelajaran Bahasa Inggris), sedangkan masa mengajarnya untuk bidang studi tersebut belum mencapai 7 (tujuh) tahun, harus mengajukan revisi, sebelum didiskualifikasi oleh LPTK.

 

Long list ini masih bersifat sementara dan hanya memuat calon yang lolos verifikasi dan disusun berdasarkan usia kemudian masa kerja. Jika terjadi kesalahan dalam penayangan data calon, maka yang bersangkutan dapat mengajukan keberatan atau koreksi. Daftar urut prioritas calon peserta sertifikasi guru RA/MI/MTs/MA, PNS dan Non PNS, mapel Agama dan Umum dari kabupaten/kota seluruh provinsi dapat DIKLIK  DISINI

 

Atau melalui link berikut :

 

Surat Long List Calon Peserta Sertifikasi Guru RA/Madrasah

 

Daftar Long List PNS Agama

 

Daftar Long List Non PNS Agama

 

Daftar Long List PNS Umum

 

Daftar Long List Non PNS Umum

Sumber : http://www.kemenag.go.id

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Realita Pramuka dan Scouts 'n roll

ini blog pindahan dari vachmee.wordpress.com

Menu Pendidikan Dengan Cita Rasa Beda

Agus Sampurno @gurukreatif

Guru Profesional dan Kreatif adalah Agen Perubahan Bangsa

ECONOMICS

"take it easy,learning economics is easy if you join with me"

Dr. Uhar Suharsaputra

BUKU ILMU BACA BUKU ILMU

himCayoo!

Counseling For All, Counseling For Better Life

tentang PENDIDIKAN

konseling, pembelajaran, dan manajemen pendidikan

The Siren's Tale

Writing & Lifestyle Blog

Hysteriography

Hogeland's commentaries on populism, liberalism, and conservatism in American history, politics, and poetics

Analog & Antisocial

Random thoughts

DAARUSSAADAH CIMARGA BOARDING SCHOOL

JL.Raya Leuwi Damar KM.7 Margajaya Lebak Banten

Irfan Handi

Hanya Ingin Berbagi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.246 pengikut lainnya.