By. Sedikit dari Gambar Hendi

Ada yang menarik dari ulasan yang di tulis

oleh Helmi Junaidi di StPiningit Blog yang menjelaskan tentang macam Ideologi dan Penempatan sesungguhnya Subtansi dari Ideologi tersebut.

Dalam tulisan tersebut Beliau mencoba menjelaskan asal semua ideologi itu berasal. Menurutnya,  Nasionalisme adalah ideologi asli Barat, tulen digali dari bumi Eropa. Malah betul-betul ide yang pure bule, bukan blasteran. Dari katanya saja sudah jelas isme ini asli Eropa. Dari middle English nacioun, from Anglo-French naciun, from Latin nation-, natio birth, race, nation, from nasci to be born. Dari Eropa, ide ini lalu dibawa ke Indonesia oleh orang-orang bule Belanda, lalu turut dianut oleh penduduk pribumi.

Bagaimana dengan patriotisme? Sama saja, isme ini pun asli diimpor dari bumi Eropa, asli bule juga. Dari kata French patriote from Old French compatriot from Late Latin patriota from Greek patriotes from patrios of one’s fathers from pater patr- father.

Jadi, kalau kita menyebut seseorang itu kurang patriotis atau tidak nasionalis, maka itu artinya adalah dia kurang kebarat-baratan atau tidak keeropa-eropaan, alias kurang bule. Betul, to?  😀

Salah kaprah semacam ini juga terjadi di negara-negara komunis Asia, seperti misalnya Cina atau Vietnam. Pemerintah Cina dan Asia komunis lainnya selama ini selalu bersikap anti nilai-nilai Barat, padahal komunisme yang mereka anut dengan setia itu adalah asli nilai-nilai Barat, tulen ideologi dari Barat. Bapak dari Komunisme, yaitu Karl Marx dan Friedrich Engels itu tulen penduduk Eropa Barat, mereka lahir di Eropa Barat dan sama sekali tak pernah menginjakkan kakinya di luar Eropa Barat. Baru saja saya baca-baca lagi, ternyata keduanya memang tak pernah ke Eropa Timur! Benar-benar tulen penduduk Eropa Barat. Karl Marx bahkan menyusun bukunya Das Kapital di London, Inggris, negara yang termasuk paling ujung Barat dari Eropa. Anehnya, ideologi yang disusun untuk kondisi masyarakat Eropa Barat itu tak pernah laku di Eropa Barat, malah dulu larisnya di Eropa Timur.

 

Bagaimana kalau nasionalisme itu kita terjemahkan dengan kata “kebangsaan”. Lho, kan aslinya tetap ideologi dari Barat. Kata “bangsa” sendiri juga aslinya dari kata “bans”, kata India. Bukan asli sini juga. Jadi, hendaknya kita memang menghindari segala jenis pemujaan yang ekstrim dan berlebihan kepada isme-isme tersebut. Itu ternyata made in luar negeri juga kok, bukan asli sini. Kapan sih kita mau mulai memperhatikan kehidupan bernegara yang nyata dan berhenti memuja simbol-simbol? Apalagi, mereka yang selama ini suka pidato heboh tentang nasionalisme/kebangsaan itu seringkali adalah mereka yang paling heboh menyengsarakan bangsanya sendiri. Mereka yang rajin berpropaganda cinta tanah air seringkali adalah mereka yang justru paling rajin merusak daratan dan lautan di negara kita, menebang hutan semena-mena dan mempolusi lautan semaunya. Jadi, “tanah air” dalam pengertian abstrak di awang-awang juga yang mereka maksudkan, bukan betul-betul tanah dan air yang nyata.

Selama ini, bila ada orang Islam ditanya asal agamanya, maka ia tentu akan menjawab dari Arab. Orang Kristen akan menjawab dari Palestina. Orang Hindu dan Budha akan menjawab dari India. Lantas, kalau kita bertanya kepada mereka tentang simbol ini, isme itu, maka biasanya akan dijawab asli digali dari Indonesia. Lho? Padahal, jelas dari luar negeri juga.

Semua isme-isme itu memang asli berasal dari Eropa, kebanyakan berasal dari abad ke-19, abad yang sungguh hiruk-pikuk dengan beragam isme-isme, sebagai reaksi atas terjadinya perubahan besar-besaran dalam masyarakat karena terjadinya revolusi industri dan revolusi Perancis pada abad sebelumnya. Entah komunisme, nasionalisme, sosialisme, kapitalisme dan beragam isme lainnya, itu hasil pemikiran kaum terpelajar Eropa. Karena pada abad itu orang Asia dan Afrika, baik yang di negara merdeka atau terjajah, rata-rata memang belum melek huruf. Jadi, memang mengherankan bila ada yang menyangkanya asli Indonesia.

Ini bukan berarti saya tak mencintai tanah kelahiran saya. Saya pun menyukai segala budaya dan tradisi yang ada di Indonesia. Saya juga adalah seorang pecinta kesenian sehingga bila menonton suatu pertunjukkan tradisional saya memang menikmati pertunjukkan yang ada dan bukan menganggapnya sebagai alat propaganda belaka. Saya hanya tak menyukai sikap yang terlalu berlebih-lebihan dalam hal ini, sehingga seringkali membuat orang lupa akan tujuan dari didirikannya dan dibangunnya negara ini. Sehingga kita lalu hanya berhenti di hal-hal semacam itu saja. Hanya berhenti pada kulit dan tak pernah membangun isinya.

Fundamentalisme dan fanatisme agaknya memang tak terbatas dianut umat beragama tetapi juga penganut ideologi, yang lebih suka memuja dan mencintai simbol-simbol/benda mati ketimbang manusia/makhluk hidup. Bagi sebagian orang, agaknya lebih mudah mencintai benda mati/abstrak ketimbang mencintai manusia/makhluk hidup.  Seperti kata Issa saat mengembara di tanah Timur, “For to do honor to stones and metals, he sacrifices human beings, in whom dwells a part of the spirit of the Most High.” (Nicolai Notovich, The Unknown Life of Jesus Christ, Chapter V, 21). Dalam hal ini, budaya zaman purba dan modern ternyata tak jauh berbeda. Bila kita benar-benar ingin menjadi manusia modern dan beradab, maka tentunya harus dibalik menjadi, “For to do honor to human beings, we sacrifices stones and metals”. Bila kita bisa menghargai dan menghormati sesama human beings, menghormati harta mereka, nyawa mereka, tanah dan rumah mereka, keluarga mereka, tidak suka merampasnya dengan semena-mena, maka sebagian besar tujuan yang ada di segala ideologi dan segala agama itu otomatis akan bisa tercapai dengan sendirinya.

Salah satu tujuan saya menulis tentang evolusi juga antara lain untuk memoderatkan sikap fanatik berlebihan kepada agama-agama, termasuk Islam tentunya, supaya orang bisa lebih menekankan berpikir rasional daripada kepada penafsiran yang kaku kepada ayat-ayat. Bisa senantiasa mengikuti perkembangan zaman. Dan agaknya sekarang perlu juga untuk memoderatkan sikap fanatik yang berlebihan kepada ideologi-ideologi, supaya orang bisa lebih menekankan kepada tujuan dari disusunnya ideologi itu sendiri, yakni untuk membahagiakan dan mensejahterakan manusia. Ideologi itu adalah suatu sarana untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Tujuannya ya itu, untuk membahagiakan dan mensejahterakan umat manusia, yang sudah berpuluh-puluh tahun tak kunjung tercapai jua. Dan seringkali kita malah disalip oleh negara-negara lain yang usianya lebih muda dari negara kita, padahal negara-negara itu tak punya simbol yang megah dan ideologi yang hebat. Tapi, mereka malah dengan pesatnya menyalip kita yang “hebat” ini. Karena kita hanya berhenti pada memuja simbol-simbol saja, malah seringkali cenderung narsis dengan simbol dan ideologi tersebut, sedangkan pelaksanaannya nol besar, bahkan malah seringkali mengamalkan kebalikannya.

Dan akhirnya, memang sebaiknya kita ini mendukung cinta kasih kepada manusia secara universal, tanpa menaruh manusia dalam kotak-kotak bernama bangsa, agama, budaya, suku dan lain lain. Saya kira itu lebih baik. Cintailah semua manusia, tanpa peduli bangsanya, agamanya, sukunya, sektenya, rasnya, madzhabnya atau berbagai bingkai primodialisme lainnya. Beyond religions, nationaliti es, and ideologies. Memang itu tak terhindarkan ada, tapi kita tak usah berlebihan dan ekstrim dalam semua hal. Sebaiknya kita ini jadi orang yang moderat dalam segala hal. Selalu berusaha mencintai semua manusia tanpa peduli apa pun latar belakangnya dan juga senantiasa memperjuangkan kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia.

Iklan